Education

WORKSHOP CITI MICRO-ENTREPRENEURSHIP 2015

Posted on Updated on

Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara didukung oleh UKM Center FEB UI dan Citi Foundation pada tanggal 15 Juni 2015 mengadakan kegiatan Workshop dan Program Pendampingan Intensif untuk para pengusaha mikro. Kegiatan ini menyangkut tema “Menjadi Usaha Kreatif Milyaran”. Para Peserta dibekali oleh narasumber Ibu Rahmatia Arqam pengusaha abon ikan Az-Zahra sebagai Juara Citi Micro-Entrepreneurship Award (CMA) 2008 serta Ibu Mustika Nur selaku pengusaha kue Bagea yang berasal dari Kendari. Mereka akan mengisi materi perkembangan usaha kecil mikro yang berpotensi lokal.

Sesi Motivasi oleh UKM Center UI
Sesi Motivasi oleh UKM Center UI

Pada kegiatan tersebut, para pelaku usaha mikro akan mendapatkan motivasi wirausaha oleh Ibu Mira Indrayani selaku Wakil Kepala UKM Center Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI). Setelah program Wokshop Citi Micro-Entrepreneurship akan dipilih 10 pengusaha yang akan mendapatkan program pendampingan Intensif (Intensive Assistance Program) selama tiga bulan kedepan. Pengusaha mikro tersebut akan dilatih dan dibimbing oleh fasilitator dari Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara (ALPEN-SULTRA) yang sebelumnya sudah diberikan modul oleh pelatihan oleh UKM Center FEB UI untuk mendamping pengusaha mikro mengembangkan keterampilan dalam: 1) Perencanaan Usaha, 2) Strategi Pemasaran, 3) Pembukuan Sederhan, 4) Pengembangan SDM, 5) Manajemen Produksi dan Inovasi, 6) Etika Bisnis.

Workshop ini dibuka secara resmi oleh Bapak Syam Alam, S.E.,M.Si selaku Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian dan Koperasi Kota Kendari. Beliau sangat mendukung pelaksanaan kegiatan ini guna pengembangan pengetahuan dan keterampilan yang sangat penting bagi para wirausaha. Harapannya setelah mengikuti kegiatan ini, para wirausaha mikro dapat mengembangkan usahanya dengan lebih baik dan menjadi ciri khas daerah Kota Kendari. Kegiatan ini diikuti oleh 70 peserta yang berasal dari Kecamatan di kota Kendari . 50 orang peserta berasal dari kelompok Perempuan Usaha Kecil yang tergabung dalam JARPUK (Jaringan Perempuan Usaha Kecil) Kota Kendari dampingan ALPEN SULTRA, 7 orang peserta berasal dari Balai Perempuan KPI-SULTRA dan 13 orang peserta berasal dari anggota forum UKM Kota Kendari.

Sejak tahun 2013 Citi Indonesia bersama dengan UKM Center FEB UI telah melaksanakan Workshop Citi Micro-Entrepreneurship dan Pendampingan Intensif (Intensive Assistance Program) sebagai bentuk komitmen dan perhatian terhadap pemberdayaan usaha mikro di Indonesia. Sampai sekarang program tersebut telah dilaksanakan d 12 lokasi dan membina lebih dari 500 UKM di Indonesia. Pada tahun ini, selain di Kendari akan diselenggarakan program serupa di Papua, Sumatera Selatan dan Sumatera Barat.

Sertifikat penghargaan Alpen - Sultra atas penyelenggaraan Workshop
Sertifikat penghargaan Alpen – Sultra atas penyelenggaraan Workshop

Program workshop dan pelatihan ini merupakan rangkaian program penyelenggaraan lomba CMA (Citi Microenterpreunership Award) pada akhir 2015 nanti. Program CMA diluncurkan sejak tahun 2005 di seluruh dunia dan di Indonesia sebagai pelaksana adalah UKM Center FEB UI dengan dukungan pendanaan oleh Citi Faoundation. Program CMA terbuka untuk menjaring wirausahawan mikro kreatif, memiliki kepedulian sosial, berdaya juang tinggi dan telah menerima pinjaman serta mendapatkan pembinaan dari LKM. Program ini terbagi dalam empat kategori kompetisi, yakni: 1) Wirausaha Mikro Perempuan, 2) Wirausaha Mikro Sosial, 3) Wirausaha Mikro Berwawasan Lingkungan, dan 4) Wirausaha Mikro Pelestarian Budaya. Para peserta mendaftarkan melalui berbagai tahapan seleksi, yakni: penilaian administrasif, survey tempat usaha dan wawancara oleh tim UKM Center FEB UI. Memasuki tahun ke 11 sebagai pelaksana dari awal, UKM Center mencatat program CMA sudah menghasilkan 100 pemenang dari wirausaha mikro dan 98% usaha yang ditekuni para pemenang tersebut mengalami pertumbuhan yang signifikan setelah mengikuti CMA. –Midha–

Pemberitaan media lokal terkait workshop dapat dilihat pada : http://www.sultrakini.com/2014/content/view/49097/59/

Pernyataan Sikap

Posted on Updated on

Kebijakan bias gender yang merugikan warga perempuan muncul lagi di Kota Kendari. Kali ini    melalui Peraturan Daerah (Perda) nomor 18 tahun 2014 tentang etika berbusana, Pemerintah Kota Kendari membatasi hak perempuan dalam mengekspresikan cara berpakaian. Perda tersebut telah ditetapkan DPRD Kota Kendari pada 22 Desember 2014.

 Perda inisiatif DPRD ini tidak landasi oleh data dan informasi yang berkaitan erat dengan latar belakang adanya kebijakan. Salah satu narasumber dalam sosialisasi perda di tingkat kecamatan menyatakan bahwa perda ini bertujuan melindungi perempuan dari segala bentuk kekerasan dan membiasakan warga kota kendari untuk berbusana dengan baik. Apakah selama ini warga kota kendari tidak etis dalam berbusana? Apakah memang ada korban kekerasan terhadap perempuan yang mengalami kekerasan karena pakaian mereka?. Perlu di ketahui bahwa beberapa lembaga atau organisasi perempuan yang memberikan layanan penanganan KTP seperti Aliansi Perempuan (ALPEN-SULTRA), Koalisi Perempuan Indonesia wilayah SULTRA (KPI – SULTRA) dan Solidaritas Perempuan Kendari (SP) tidak pernah menerima pengaduan korban pelecehan atau kekerasan karena busana yang mereka pakai. Data tahun 2011- 2013 terdapat 70% kekerasan dalam rumah tangga dan 27% pelecehan seksual yang di tangani oleh lembaga/organisasi perempuan di Sultra ini dan dari data serta study kasus tersebut tidak ada satu orang pun korban yang mengalami bentuk kekerasan karena pakaian yang dikenakannya.

Perda ini juga bertentangan dengan beberapa peraturan perundang-undangan yang sudah berlaku diantaranya:

  • UUD 1945 Pasal 4 ayat (1) dan Pasal 27 ayat (1);
  • UU No.7 tahun 1984 tentang pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan.
  • UU No. 39 tahun 1999 tentang Hak-Hak Asasi Manusia
  • Instruksi Presiden No.9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional;
  • Permendagri No.60 tahun 2007 tentang Pakaian PNS di Lingkup Depdagri dan Pemerintah Daerah.
  • Peraturan Mentri dalam Negeri No.15 tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan gender di Daerah
  • Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara no.9 tahun 2013 tentang PUG dalam pembangunan daerah. (BAB II Pasal 2 ttg Asas lahirnya perda PUG).
  • Permendikbud No. 45 tahun 2014 tentang seragam Nasional Siswa Sekolah.

Dan dalam isi pasal per pasalnya masih ada kerancuan penjelasan yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada penjelasannya dalam pasal 1 yakni ketentuan umum. Selain itu, pada pasal 12 ttg sanksi juga tidak memberikan penerapan yang bersifat mengikat dan memberi efek jera sebab dasar perundang-undangan nya lemah. Seyogya nya produk hukum dibuat untuk mengatur, mengikat dan memberikan efek jera serta tidak ada pertentangan dalam pasal per pasalnya.

Dengan adanya perda etika berbusana di kota kendari ini secara tidak langsung dapat menurukan indeks demokrasi provinsi Sulawesi tenggara secara nasional, sebab salah satu indikator dalam indeks demokrasi adalah tidak adanya perda-perda diskriminasi yang mengatur dan merampas hak-hak warga negaranya baik pada ranah domestik maupun publik. Selain itu ruang gerak perempuan akan lebih terbatas baik dalam ranah domestik maupun publik. Negara harus menjamin hak-hak setiap warga nya untuk dapat mengakses sumberdaya dan berpartisipasi dalam tahapan pembangunan secara adil dan setara.

Oleh karena itu, Forum Masyarakat Kota Kendari Menolak Perda-perda Diskriminatif ini menyatakan sikap dan menuntut DPRD Kota Kendari untuk :

  1. Membatalkan pelaksanaan Perda no.18 tahun 2014 ini karena tidak berdasar pada nilai-nilai, data, fakta dan kondisi yang ada di masyarakat kota kendari yang beragam dan bertentangan dengan aturan perundang-undangan serta peraturan pemerintah yang sudah berlaku.
  2. Meminta pertanggungjawaban DPRD kota Kendari terhadap pernyataannya yang melibatkan pemerhati ataupun organisasi perempuan dalam tahapan penyusunan perda ini.
  3. Merekomendasikan untuk membuat peraturan – peraturan yang lebih penting dan berkualitas serta berpihak pada kepentingan masyarakat umum, diantaranya :
  • Peraturan mengenai Perlindungan dan Pemulihan korban Kekerasan terhadap Perempuan dan anak.
  • Peraturan mengenai perlindungan social untuk pekerja informal
  • Peraturan mengenai perlindungan buruh migran.
  • Peraturan terkait pendidikan sebaya untuk kesehatan reproduksi remaja dan hubungannya dalam pencegahan penyakit menular seksual dan narkotika.
  • Peraturan mengenai tata kelola ruang publik dan pelestarian lingkungan.

Demikianlah Pernyataan Sikap ini kami buat dengan harapan agar Bapak/Ibu Anggota Dewan sebagai wakil masyarakat lebih berkualitas, mampu melindungi dan mengetahui hak-hak asasi warganya yang dijamin dan dilindungi oleh Negara.

“Pakaianku, Kenyamananku, Pilihanku !!!”

 

Kendari, 4 Mei 2015

Forum Masyarakat Kota Kendari Menolak Perda-perda Diskriminatif

Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara (ALPEN-SULTRA),

Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Wilayah Sultra,

Solidaritas Perempuan (SP) Kendari,

LPM-EQUATOR,

Ibu Hj. Chadijah Thamrin,

Jaringan Perempuan Usaha Kecil Kota Kendari.

BALAI Perempuan KPI.

Forum Aktivis Perempuan Muda (FAMM – Indonesia) wilayah Sul-Tra

Disampiakn pada hearing (dengar pendapat ) Anggota Forum dengan Anggota DPRD Kota Kendari Tanggal 4 Mei 2015.

~Midha~

Film baru ‘Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara’ ~ New film ‘The Women’s Alliance of Southeast Sulawesi’

Posted on Updated on

Kami sangat senang dan bangga telah melaunching film terbaru kami yakni Film Profil ALPEN-SULTRA. Silahkan kunjungi ini (Bahasa Ingris) atau ini (Bahasa Indonesia) untuk menyaksikan film ini baik dalam versi Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Anda juga dapat mendownload film ini dengan kualitas yang baik.

Atau Anda dapat menyaksikannya dalam versi Youtube.

Selamat Menyaksikan.

We are very pleased to launch a new film profiling the Women’s Alliance of Southeast Sulawesi. Visit fantastic independent media site Engagemedia and view the film by clicking here (English version) or here (Indonesian version). You can also download a high resolution version.

Or check out a youtube version here.

Happy viewing!

Pendidikan dan pelatihan ~ Education and training workshop

Posted on Updated on

Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Prov.Sulawesi Tenggara Bekerja sama Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara (ALPEN-SULTRA) melakukan suatu kegiatan yakni Pendidikan dan Pelatihan Pemberdayaan Perempuan Melalui Keterampilan Pembuatan Bakso Ikan dan Abon Ikan, kegiatan tersebut dilaksanakan di Kel.Puday Kec.Abeli Kota Kendari…selama dua hari , dari Tnggal, 7-8 November 2009

Adapun tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk meningkatkan Pengetahuan dan Keterampilan serta sikap mental yang positif pada kaum perempuan agar dapat meningkatkan kemampuan dan kualitas hidupnya sehingga produktifitas mereka meningkat yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan keluarga dan masyarakat.

Peserta kegitan sebanyak 30 orang perempuan yang berdomisili pada pesisir pantai dan sekitarnya yang berada di Kelurahan Puday, Kelurahan Tobimeita, dan Kelurahan Lapulu Kecamatan Abeli Kota Kendari Prov.Sulawesi Tenggara.

break graphic

The Learning Activity Development Center (BPKB) of  Southeast Sulawesi and ALPEN Sultra held a 2 day workshop in Kel. Puday Kec. Abeli, Kendari from 7 – 8 November.  The workshop was focused on ‘Education and Training Skills for Women’s Empowerment through making fishballs and fish floss (abon ikan)’.

The purpose of this activity was to increase knowledge and skills and encourage a positive mental attitude in women in order to increase their capacity and quality of life. As a result, their productivity increases, which in turn will increase the income of families and communities.

30 young women participated in the workshop, all of whom are living in the coastal and surrounding areas located in Kelurahan Puday, Tobimeita District and Abeli, Lapulu sub-district, Kendari.

Program ‘Green Road to School’ di Kendari adalah Sebuah Kesuksesan Besar ~ Kendari’s ‘Green Road to School’ program is a great success

Posted on Updated on

Selama Oktober, Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara (ALPEN Sultra) dan Komunitas Hijau Kendari telah melaksanakan suatu program pendidikan lingkungan hidup pada tiga sekolah di kota Kendari dengan sukses. Ketiga sekolah-sekolah tersebut yakni SMP Negeri 1, SMP Negeri 9 dan SMA Negeri 5 Kendari. Lebih dari 90 siswa menghadiri program Green Road to School , yang diadakan selama 2 hari di masing-masing sekolah yakni mulai tanggal 7-8, 9-10 dan 13-14 Oktober. Dalam program ini siswa belajar tentang perubahan iklim dan dampaknya bagi kehidupan, fungsi hutan, pengenalan pembuatan kompos, pengelolaan limbah yang berkesinambungan dan membuat “peta hijau” untuk sekolah berdasarkan visi mereka akan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan, kegiatan ini di fasilitasi oleh ALPEN Sultra dan Komunitas Hijau . Selain itu siswa juga di berikan penyuluhan tentang HIV / AIDS dan NARKOBA yang difasilitasi oleh KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) dan BNK (Badan Narkotika Kendari).

Program “Green Road to School” ini juga di dukung oleh Pemerintah Kota Kendari. Sesuai dengan Visi pemerintah kota yaitu “Mewujudkan kendari tahun 2020 sebagai kota dalam taman yang maju, demokratis dan sejahtera” dengan Misi lingkungannya yaitu “Kota Dalam Taman”, adalah ungkapan yang merefleksikan sekaligus mengabadikan kebanggaan, potensi dan kekhasan Kota Kendari. Hutan dan teluk yang mengelilingi Kendari adalah penting sebagai “sabuk-hijau” yang harus mendapat perhatian serius dari upaya konservasi dan perbaikan.

Perubahan iklim menjadi tantangan terbesar bagi kemanusiaan dan lingkungan alam yang kita hadapi saat ini. Bencana Alam akibat dari dampak perubahan iklim secara dramatis akan sangat memburuk selama dekade mendatang. Jutaan mata pencaharian masyarakat, ketahanan pangan dan sumber air, kesehatan dan hak asasi manusia dalam bahaya. Selain itu ribuan spesies dan ekosistem alam akan terancam bahkan punah akibat dari meningkatnya degradasi lingkungan. Sulawesi Tenggara, dan provinsi lainnya di Indonesia, berada pada risiko yang tinggi akibat dari dampak perubahan iklim karena ketergantungan ekonomi pada sektor pertanian dan perikanan, pesisir pantai yang signifikan menjadi tempat tinggal penduduk dan tingginya tingkat kemiskinan di provinsi ini. Namun, tingkat kesadaran tentang perubahan iklim di provinsi ini sangat rendah dan saat ini, proyek-proyek atau program yang difokuskan pada mitigasi, adaptasi perubahan iklim dan pendidikan lingkungan jumlah sangat terbatas .

Pengelolaan sampah juga merupakan isu penting di Sulawesi Tenggara, dan khususnya di kota Kendari. Sampah plastik, sampah organik dan anorganik, bersamaan dengan limbah industri dan limbah lainnya menyebabkan masalah lingkungan yang serius di sungai-sungai , kawasan hutan dan Teluk Kendari.  Laporan UNEP baru-baru ini menemukan bahwa plastik, khususnya kantong plastik dan polietilen tereftalat (PET) atau botol, adalah jenis sampah yang paling banyak di laut pada planet ini dan terdapat lebih dari 80% plastik dari semua jenis sampah yang ditemukan di lautan. Kantong plastik sendiri mencapai hampir 10%.

Program pendidikan lingkungan bagi anak muda sangat penting, sebab mereka akan menjadi generasi selanjutnya dalam menyelesaikan masalah lingkungan yang penting dan mendorong mereka untuk menjadi warga yang aktif dalam membantu lingkungan dan komunitas mereka. Program pendidikan lingkungan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan kesadaran kritis mereka pada berbagai isu lingkungan seperti perubahan iklim dan pengelolaan sampah, serta menyediakan platform sosial dalam membahas cara yang lebih baik bagi mereka dimasa yang akan datang.


Download brosur perubahan iklim yang dihasilkan oleh ALPEN dan Komunitas Hijau untuk program ini …

Leaflet perubahan iklim (rinci)

Leaflet perubahan iklim (dasar)

enviro graphic

During October, The Women’s Alliance of Southeast Sulawesi (ALPEN Sultra) and Kendari’s Green Community coordinated a very successful environmental education program in three Kendari high schools – SMP Negeri 1, SMP Negeri 9 and SMA Negeri 5. Over 90 students attended the Green Road to School program, which was held over 2 days in each school (7-8, 9-10 and 13-14 October). Students learnt about climate change, forests, compost, waste management and sustainability from ALPEN Sultra and Green Community staff, and attended workshops about HIV/AIDS and drugs, which were conducted by KPA (AIDS Commission) and BNK (Kendari Narcotics Agency). Students also created ‘green maps’ for their school, which illustrated their visions of a greener and more sustainable school environment.

The “Green Road to School” program was supported by the Government of Kendari in accordance with the city government’s vision – “Realising the vision of Kendari in 2020 as a developed, democratic and prosperous city filled with parks”. The government’s environmental mission is to achieve a “City in the Gardens”, a phrase that reflects both the pride and uniqueness of Kendari. The forests and the bay that surround Kendari are an important “green belt” that deserve serious conservation and restoration efforts.

Climate change is the greatest environmental and humanitarian challenge facing our world today. The disastrous affect of climate-related impacts is set to worsen dramatically over the coming decades. Millions of people’s livelihoods, food and water security, health and human rights are in jeopardy, and thousands of species and ecosystems are threatened by increased environmental degradation or even extinction. Sulawesi Tenggara, along with many provinces in Indonesia, is at particular risk from the catastrophic impacts of climate change due to its economy’s reliance on agriculture and fisheries, a significant coastal-dwelling population and the high incidence of poverty in the province. However, the level of awareness about climate change in the province is very low and, at present, few projects or programs exist in Sulawesi Tenggara that are focused on climate change mitigation, adaptation or education.

Waste management is also a crucial issue in Sulawesi Tenggara, and particularly in Kendari city. Plastic waste, organic and inorganic rubbish, along with industrial waste and sewage are causing serious environmental problems in Kendari’s rivers, forested areas and in Kendari Bay. A recent UNEP report found that plastic, especially bags and polyethylene terephthalate (PET) bottles, is the most pervasive type of marine litter on the planet and that plastic makes up more than 80% of all rubbish found in the oceans. Plastic bags alone make up almost 10%.

Environmental education programs for young people are extremely important, as they engage the next generation with important environmental issues and encourage them to become active citizens in helping their environment and their community. Environmental education programs increase students’ knowledge and awareness of critical environmental issues like climate change and waste management, and they provides a social platform to discuss a better way forward.

Download climate change leaflets produced by ALPEN and Green Community for the program here…

Climate change leaflet (detailed)

Climate change leaflet (basic)

Kegiatan Field Trip ALPEN SULTRA bersama dengan Siswa SBI SLTP 1 Kendari ke Tahura Nipa-Nipa ~ ALPEN SULTRA and SLTP 1 students go on a field trip to Tahura Nipa- Nipa forest

Posted on Updated on

Tahura Nipa-Nipa1

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 24 Mei 2009 dengan melibatkan kurang lebih 55 orang siswa SLTP 1 kendari kelas international school (SBI) yang terdiri atas 35 org perempuan dan 20 orang laki-laki. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan lingkungan hidup kepada remaja putra-putri kota kendari tentang pentingnya menjaga, memelihara dan melestarikan Tahura Nipa-nipa sebagai paru-paru kota kendari. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, para siswa telah diberikan beberapa pemahaman di ruang kelas mengenai dampak perubahan iklim dan fungsi TAHURA di kota Kendari, Model pelaksanaan kegiatan ini adalah pembelajaran di ruang kelas dan praktek lapang. Kegiatan field trip dilaksanakan pada area kawasan Tahura nipa-nipa yang menjadi hutan penyangga sumber mata air bagi kota kendari. Secara sederhana, masing-masing siswa dibekali dengan kantong plastik pada saat melakukan perjalanan ke Tahura nipa-nipa, dengan tujuan untuk menampung sampah yang terdapat di sekitar kawasan hutan Tahura. Selain itu, para siswa juga diberikan penyuluhan/pemahaman dan sosialisasi mengenai fungsi kawasan hutan Tahura nipa-nipa bagi masyarakat kota kendari. Diantaranya berfungsi sebagai hutan penyangga sumber mata air, sebagai kawasan penelitian bagi mahasiswa dan masyarakat dan sebagai kawasan konservasi.

ALPEN SULTRA yang juga fokus pada isu pemberdayaan perempuan dan lingkungan menggagas program ini dengan melibatkan remaja sebagai agen pembaharu pelestarian lingkungan, sebab dengan terlibatnya remaja putra putri di kota kendari ini akan memberikan dampak yang positif bagi keberlajutan pelestarian hutan dan lingkungan sekitarnya. Ula Majewski, yang bekerja sebagai pekerja sukarela di ALPEN SULTRA sekaligus sebagai fasilitator kegiatan ini mengatakan: “sangat penting bagi setiap orang untuk mengetahui dampak terbesar bagi perubahan iklim dan kerusakan hutan, oleh karena itu penting untuk menjaga dan melestarikannya”.

break graphic

On Sunday, 24th May 2009, ALPEN SULTRA organised a field trip to the Tahura Nipa-Nipa forest, involving 55 students (35 girls and 20 boys) from junior high school KLTP 1 in Kendari. The field trip provided environmental education for the teenagers about how to watch over, protect and conserve the Tahura Nipa-Nipa forest as the lungs of Kendari city. Prior to this activity, the students had already participated in a classroom workshop and had gained a good understanding of the effects of climate change and the importance of Tahura Nipa-Nipa for the people of Kendari. This learning process was continued with the field trip out to the forest. Tahura Nipa-Nipa is an important water resource for the city of Kendari. During the field trip, students collected rubbish from the forest and listened to local experts talk about the different functions of the forest – as a water resource, conservation area and research site for the university.

ALPEN SULTRA, a local NGO that focuses on Gender and Environment, initiated this activity and has involved the young people of Kendari, to show them how they can have an important impact on forest conservation and sustainable environmental management of the forests in the area. Ula Majewski, who works as a volunteer for ALPEN and also as a facilitator of this initiative said “It is very important for people to understand the massive impacts that climate change and deforestation are having on our world and to become active in the conservation and rehabilitation of forests.”