Environment

Film baru ‘Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara’ ~ New film ‘The Women’s Alliance of Southeast Sulawesi’

Posted on Updated on

Kami sangat senang dan bangga telah melaunching film terbaru kami yakni Film Profil ALPEN-SULTRA. Silahkan kunjungi ini (Bahasa Ingris) atau ini (Bahasa Indonesia) untuk menyaksikan film ini baik dalam versi Bahasa Inggris maupun Bahasa Indonesia. Anda juga dapat mendownload film ini dengan kualitas yang baik.

Atau Anda dapat menyaksikannya dalam versi Youtube.

Selamat Menyaksikan.

We are very pleased to launch a new film profiling the Women’s Alliance of Southeast Sulawesi. Visit fantastic independent media site Engagemedia and view the film by clicking here (English version) or here (Indonesian version). You can also download a high resolution version.

Or check out a youtube version here.

Happy viewing!

Film baru ‘Selamatkan Teluk Kendari’ ~ New film ‘Save Kendari Bay’

Posted on Updated on

Alpen dan Komunitas Hijau Sultra dengan bangga mempersembahkan sebuah film Dokumenter dengan judul “Save Kendari Bay” atau “Selamatkan Teluk Kendari”. Teluk kendari di Sulawesi Tenggara, Indonesia telah tercemar dan mengalami pendangkalan akibat deforestrasi hutan. Akibatnya, ekosistem yang ada di Teluk Kendari mengalami degradasi yang kritis. Film dokumenter ini meceritakan tentang kerusakan lingkungan di sekitar Teluk dan dampak yang di timbulkannya bagi masyarakat setempat. Selain itu Film ini juga bermaksud untuk mengkampanyekan penyelamatan Teluk Kendari.

Selamat menyasikan film dokumenter ini yang di sutradai oleh Iwan Djamaluddin (Ketua Komunitas Hijau Sultra).

Clik ini …. EngageMedia

ALPEN and Green Community Sultra are proud to present a new film “Save Kendari Bay”. Kendari Bay, Sulawesi Tenggara, Indonesia has been subjected to excessive pollution and siltation from deforestation upstream. As a result, the ecosystem of Kendari Bay has been seriously degraded. This film documents some of the environmental damage inflicted on the bay and the resulting impacts on local communities as well as introducing the campaign to save Kendari Bay.

Watch this great new film directed by Iwan Djamaluddin on EngageMedia.

Program ‘Green Road to School’ di Kendari adalah Sebuah Kesuksesan Besar ~ Kendari’s ‘Green Road to School’ program is a great success

Posted on Updated on

Selama Oktober, Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara (ALPEN Sultra) dan Komunitas Hijau Kendari telah melaksanakan suatu program pendidikan lingkungan hidup pada tiga sekolah di kota Kendari dengan sukses. Ketiga sekolah-sekolah tersebut yakni SMP Negeri 1, SMP Negeri 9 dan SMA Negeri 5 Kendari. Lebih dari 90 siswa menghadiri program Green Road to School , yang diadakan selama 2 hari di masing-masing sekolah yakni mulai tanggal 7-8, 9-10 dan 13-14 Oktober. Dalam program ini siswa belajar tentang perubahan iklim dan dampaknya bagi kehidupan, fungsi hutan, pengenalan pembuatan kompos, pengelolaan limbah yang berkesinambungan dan membuat “peta hijau” untuk sekolah berdasarkan visi mereka akan lingkungan yang lebih hijau dan berkelanjutan, kegiatan ini di fasilitasi oleh ALPEN Sultra dan Komunitas Hijau . Selain itu siswa juga di berikan penyuluhan tentang HIV / AIDS dan NARKOBA yang difasilitasi oleh KPA (Komisi Penanggulangan AIDS) dan BNK (Badan Narkotika Kendari).

Program “Green Road to School” ini juga di dukung oleh Pemerintah Kota Kendari. Sesuai dengan Visi pemerintah kota yaitu “Mewujudkan kendari tahun 2020 sebagai kota dalam taman yang maju, demokratis dan sejahtera” dengan Misi lingkungannya yaitu “Kota Dalam Taman”, adalah ungkapan yang merefleksikan sekaligus mengabadikan kebanggaan, potensi dan kekhasan Kota Kendari. Hutan dan teluk yang mengelilingi Kendari adalah penting sebagai “sabuk-hijau” yang harus mendapat perhatian serius dari upaya konservasi dan perbaikan.

Perubahan iklim menjadi tantangan terbesar bagi kemanusiaan dan lingkungan alam yang kita hadapi saat ini. Bencana Alam akibat dari dampak perubahan iklim secara dramatis akan sangat memburuk selama dekade mendatang. Jutaan mata pencaharian masyarakat, ketahanan pangan dan sumber air, kesehatan dan hak asasi manusia dalam bahaya. Selain itu ribuan spesies dan ekosistem alam akan terancam bahkan punah akibat dari meningkatnya degradasi lingkungan. Sulawesi Tenggara, dan provinsi lainnya di Indonesia, berada pada risiko yang tinggi akibat dari dampak perubahan iklim karena ketergantungan ekonomi pada sektor pertanian dan perikanan, pesisir pantai yang signifikan menjadi tempat tinggal penduduk dan tingginya tingkat kemiskinan di provinsi ini. Namun, tingkat kesadaran tentang perubahan iklim di provinsi ini sangat rendah dan saat ini, proyek-proyek atau program yang difokuskan pada mitigasi, adaptasi perubahan iklim dan pendidikan lingkungan jumlah sangat terbatas .

Pengelolaan sampah juga merupakan isu penting di Sulawesi Tenggara, dan khususnya di kota Kendari. Sampah plastik, sampah organik dan anorganik, bersamaan dengan limbah industri dan limbah lainnya menyebabkan masalah lingkungan yang serius di sungai-sungai , kawasan hutan dan Teluk Kendari.  Laporan UNEP baru-baru ini menemukan bahwa plastik, khususnya kantong plastik dan polietilen tereftalat (PET) atau botol, adalah jenis sampah yang paling banyak di laut pada planet ini dan terdapat lebih dari 80% plastik dari semua jenis sampah yang ditemukan di lautan. Kantong plastik sendiri mencapai hampir 10%.

Program pendidikan lingkungan bagi anak muda sangat penting, sebab mereka akan menjadi generasi selanjutnya dalam menyelesaikan masalah lingkungan yang penting dan mendorong mereka untuk menjadi warga yang aktif dalam membantu lingkungan dan komunitas mereka. Program pendidikan lingkungan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan kesadaran kritis mereka pada berbagai isu lingkungan seperti perubahan iklim dan pengelolaan sampah, serta menyediakan platform sosial dalam membahas cara yang lebih baik bagi mereka dimasa yang akan datang.


Download brosur perubahan iklim yang dihasilkan oleh ALPEN dan Komunitas Hijau untuk program ini …

Leaflet perubahan iklim (rinci)

Leaflet perubahan iklim (dasar)

enviro graphic

During October, The Women’s Alliance of Southeast Sulawesi (ALPEN Sultra) and Kendari’s Green Community coordinated a very successful environmental education program in three Kendari high schools – SMP Negeri 1, SMP Negeri 9 and SMA Negeri 5. Over 90 students attended the Green Road to School program, which was held over 2 days in each school (7-8, 9-10 and 13-14 October). Students learnt about climate change, forests, compost, waste management and sustainability from ALPEN Sultra and Green Community staff, and attended workshops about HIV/AIDS and drugs, which were conducted by KPA (AIDS Commission) and BNK (Kendari Narcotics Agency). Students also created ‘green maps’ for their school, which illustrated their visions of a greener and more sustainable school environment.

The “Green Road to School” program was supported by the Government of Kendari in accordance with the city government’s vision – “Realising the vision of Kendari in 2020 as a developed, democratic and prosperous city filled with parks”. The government’s environmental mission is to achieve a “City in the Gardens”, a phrase that reflects both the pride and uniqueness of Kendari. The forests and the bay that surround Kendari are an important “green belt” that deserve serious conservation and restoration efforts.

Climate change is the greatest environmental and humanitarian challenge facing our world today. The disastrous affect of climate-related impacts is set to worsen dramatically over the coming decades. Millions of people’s livelihoods, food and water security, health and human rights are in jeopardy, and thousands of species and ecosystems are threatened by increased environmental degradation or even extinction. Sulawesi Tenggara, along with many provinces in Indonesia, is at particular risk from the catastrophic impacts of climate change due to its economy’s reliance on agriculture and fisheries, a significant coastal-dwelling population and the high incidence of poverty in the province. However, the level of awareness about climate change in the province is very low and, at present, few projects or programs exist in Sulawesi Tenggara that are focused on climate change mitigation, adaptation or education.

Waste management is also a crucial issue in Sulawesi Tenggara, and particularly in Kendari city. Plastic waste, organic and inorganic rubbish, along with industrial waste and sewage are causing serious environmental problems in Kendari’s rivers, forested areas and in Kendari Bay. A recent UNEP report found that plastic, especially bags and polyethylene terephthalate (PET) bottles, is the most pervasive type of marine litter on the planet and that plastic makes up more than 80% of all rubbish found in the oceans. Plastic bags alone make up almost 10%.

Environmental education programs for young people are extremely important, as they engage the next generation with important environmental issues and encourage them to become active citizens in helping their environment and their community. Environmental education programs increase students’ knowledge and awareness of critical environmental issues like climate change and waste management, and they provides a social platform to discuss a better way forward.

Download climate change leaflets produced by ALPEN and Green Community for the program here…

Climate change leaflet (detailed)

Climate change leaflet (basic)

ALPEN bergabung Forum Anti Kekerasan Tambang (FAKTA) ~ ALPEN joins the Anti Violence and Mining Forum (FAKTA)

Posted on Updated on

ALPEN SULTRA, mengikuti rapat pertemuan forum anti kekerasan di Wilayah pertambangan (FAKTA) terkait dengan peristiwa penembakan pendulang tradisional dan tindakan penganiayaan terhadap 70 orang pendulang lainnya oleh aparat kepolisian pada tanggal 16-17 Juli 2009 di Kabupaten Bombana. Peristiwa ini bermula dibakranya tenda-tenda pendulang local oleh pihak investor sehingga menimbulkan aksi demontrasi oleh pendulang local dan terjadinya penembakan oleh pihak aparat terhadap pihak demonstran. Berdasarkan peristiwa tersebut diatas, WALHI SULTRA mengisiasi dukungan dari beberapa lembaga (NGO) untuk menggalang aksi solidaritas terhadap kekerasan yang terjadi di wilayah pertambangan di Kabupaten Bombana.

Rapat ini menghasilkan beberapa pernyataan sikap bersama atas tindakan kekerasan tersebut yang terdiri dari :

1. Mengutuk keras tindakan kekerasan, teror dan intimidasi oleh aparat kepolisian terhadap warga yang melakukan aktivitas pertambangan di kawasan pertambangan emas Kab. Bombana

2. Usut tuntas pelaku kekerasan yang melakukan pelanggaran hak asasi manusia.

3. Segera menghentikan tindakan kekerasan, teror dan intimidasi terhadap warga yang melakukan aktivitas pertambangangan di kawasan pertambangan emas Kab. Bombana baik menggunakan aparat kepolisian maupun cara-cara lain yang menonjolkan praktek premanisme dan militerisme.

4. Moratorium untuk pertambangan emas Bombana.

 

Selanjutnya Forum ini kemudian mengadakan press conference dengan media local dan pada tanggal 28 July 2009 akan dilakukan aksi public hearing ke DPRD Prov. Terkait dengan peristiwa ini untuk meminta pertanggung jawaban KAPOLDA SULTRA dalam mengusut dan menyelesaikan kasus ini.

 

Anggota Forum Anti Kekerasan Tambang (FAKTA) ini yaitu :

1. Walhi Sultra

2. SHI Sultra

3. ALPEN Sultra

4. KPI Sultra

5. YPSHK

6. KPA Sultra

7. Medikra

8. Puspa HAM

9. AGRA Sultra

10. LBH Kendari

11. LMND Kendari

12. Konsorsium Masyarakat Pemerhati Bombana

break graphic

ALPEN Sultra has joined Anti Violence and Mining Forum (FAKTA) and attended a meeting on Wednesday addressing the issue of anti-violence in Southeast Sulawesi’s gold mining areas. On 16-17 July 2009, 3 community members were shot and 70 other workers were harrassed by the police in the Bombana District. Tents belonging to local workers were also burnt by mining investors. Workers held a demonstration, which resulted in the mining investor’s security forces firing on the demonstrators. Based on the above events, WALHI Sultra facilitated support from several organisations to act in solidarity against the violence that occurred in the mining areas of Bombana.

 

The Anti Violence and Mining Forum (FAKTA) has produced several joint statements related to the issue of violence. This forum, comprising a number of organisations:

 

1. Condemns acts of violence, terror and intimidation by police against citizens who conduct mining activities in the gold mining areas of Bombana;

2. Will conduct an investigation into the perpetrators of violence and human rights violations;

3. Calls for an immediate halt to acts of violence, terror and intimidation against citizens who conduct activities in Bombana’s gold mining areas, using either the police or other means of intimidation or the practice of criminal militarism.

4. Calls for an immediate moratorium on gold mining in Bombana.

 

This forum conducted a press conference with local media on 22 July. On 28 July, a public hearing will be held at Sulawesi Tenggara’s Legislative Council. This event aims to ensure the Head of Police in Sulawesi Tenggara takes responsibility in completing and prosecuting perpetrators associated with this case.

 

Anti Violence and Mining Forum (FAKTA) Members are:

1. Walhi Sultra

2. SHI Sultra

3. ALPEN Sultra

4. KPI Sultra

5. YPSHK

6. KPA Sultra

7. Medikra

8. Puspa HAM

9. Agra Sultra

10. LBH Kendari

11. LMND Kendari

12. Consortium Community observer Bombana

Kegiatan Field Trip ALPEN SULTRA bersama dengan Siswa SBI SLTP 1 Kendari ke Tahura Nipa-Nipa ~ ALPEN SULTRA and SLTP 1 students go on a field trip to Tahura Nipa- Nipa forest

Posted on Updated on

Tahura Nipa-Nipa1

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 24 Mei 2009 dengan melibatkan kurang lebih 55 orang siswa SLTP 1 kendari kelas international school (SBI) yang terdiri atas 35 org perempuan dan 20 orang laki-laki. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan lingkungan hidup kepada remaja putra-putri kota kendari tentang pentingnya menjaga, memelihara dan melestarikan Tahura Nipa-nipa sebagai paru-paru kota kendari. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, para siswa telah diberikan beberapa pemahaman di ruang kelas mengenai dampak perubahan iklim dan fungsi TAHURA di kota Kendari, Model pelaksanaan kegiatan ini adalah pembelajaran di ruang kelas dan praktek lapang. Kegiatan field trip dilaksanakan pada area kawasan Tahura nipa-nipa yang menjadi hutan penyangga sumber mata air bagi kota kendari. Secara sederhana, masing-masing siswa dibekali dengan kantong plastik pada saat melakukan perjalanan ke Tahura nipa-nipa, dengan tujuan untuk menampung sampah yang terdapat di sekitar kawasan hutan Tahura. Selain itu, para siswa juga diberikan penyuluhan/pemahaman dan sosialisasi mengenai fungsi kawasan hutan Tahura nipa-nipa bagi masyarakat kota kendari. Diantaranya berfungsi sebagai hutan penyangga sumber mata air, sebagai kawasan penelitian bagi mahasiswa dan masyarakat dan sebagai kawasan konservasi.

ALPEN SULTRA yang juga fokus pada isu pemberdayaan perempuan dan lingkungan menggagas program ini dengan melibatkan remaja sebagai agen pembaharu pelestarian lingkungan, sebab dengan terlibatnya remaja putra putri di kota kendari ini akan memberikan dampak yang positif bagi keberlajutan pelestarian hutan dan lingkungan sekitarnya. Ula Majewski, yang bekerja sebagai pekerja sukarela di ALPEN SULTRA sekaligus sebagai fasilitator kegiatan ini mengatakan: “sangat penting bagi setiap orang untuk mengetahui dampak terbesar bagi perubahan iklim dan kerusakan hutan, oleh karena itu penting untuk menjaga dan melestarikannya”.

break graphic

On Sunday, 24th May 2009, ALPEN SULTRA organised a field trip to the Tahura Nipa-Nipa forest, involving 55 students (35 girls and 20 boys) from junior high school KLTP 1 in Kendari. The field trip provided environmental education for the teenagers about how to watch over, protect and conserve the Tahura Nipa-Nipa forest as the lungs of Kendari city. Prior to this activity, the students had already participated in a classroom workshop and had gained a good understanding of the effects of climate change and the importance of Tahura Nipa-Nipa for the people of Kendari. This learning process was continued with the field trip out to the forest. Tahura Nipa-Nipa is an important water resource for the city of Kendari. During the field trip, students collected rubbish from the forest and listened to local experts talk about the different functions of the forest – as a water resource, conservation area and research site for the university.

ALPEN SULTRA, a local NGO that focuses on Gender and Environment, initiated this activity and has involved the young people of Kendari, to show them how they can have an important impact on forest conservation and sustainable environmental management of the forests in the area. Ula Majewski, who works as a volunteer for ALPEN and also as a facilitator of this initiative said “It is very important for people to understand the massive impacts that climate change and deforestation are having on our world and to become active in the conservation and rehabilitation of forests.”