kendari

Kampanye Advokasi Pembebasan Aktivis Lingkungan, Eva Bande

Posted on Updated on

Kendari – Jumat, 6 Juni 2014, Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara bersama dengan beberapa aktivis lingkungan dan perempuan mengadakan kegiatan kampanye lingkungan dan advokasi pembebasan aktivis, Eva Bande. Kegiatan ini diselenggarakan di depan kantor Walikota. Kampanye ini diselenggarakan sehubungan dengan hari lingkungan, dimana beberapa aktivis memberikan orasinya terkait dengan permasalahan lingkungan dan juga advokasi terkait kasus Eva Bande.

DSC_0203

Eva Susanti Hanafi Bande, (Eva Bande), lahir di Luwuk 36 tahun silam yang lalu. Ia menamatkan Sekolah Menengah Atasnya (SMA) di Luwuk, dan kemudian melanjutkan Pendidikannya ke Universitas Tadulako, di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip), pada tahun 1998 silam yang lalu. Pada saat itu juga Eva sudah mulai terlibat dalam gerakan mahasiswa.

Perjuangan Eva Bande dalam membela hak-hak petani dimulai pada tahun 1999. Pada saat itu Eva bersama kawan-kawannya di Front Mahasiswa Indonesia Sulawesi Tengah terlibat langsung dalam pembelaan petani Tambak, korban perampasan hak dari perusahaan tambak di Kecamatan Batui, Kabupaten Banggai. Selain itu, sejak tahun 2008 hingga sekarang, Eva yang merupakan Koordinator Front Rakyat Advokasi Sawit (FRAS), juga aktif membela hak-hak petani yang dirampas oleh pihak pengusaha di dataran Moilong, Toili, Toili Barat.

Tidak hanya membela hak-hak petani, Eva juga aktif membela perjuangan hak-hak kaum perempuan khususnya perempuan korban kekerasan di berbagai daerah di Sulawesi Tengah. Eva yang pada tahun 2002 sudah aktif di Kelompok Perjuangan Kesetaraan Perempuan Sulawesi Tengah bersama kawan-kawannya mengorganisir kaum perempuan di Kabupaten Poso yang kemudian melahirkan banyak perempuan-perempuan yang kemudian aktif di gerakan di Poso. Karena kegigihannya dalam mengorganisir dan mendidik kaum perempuan di Poso, Eva beserta kawan-kawannya menjadi salah satu penggerak proses perdamaian di Kabupaten Poso yang disebut dengan Perempuan Merajut Perdamaian — (sumber: berdikari online)

DSC_0202

Awal mula hingga terjadi penangkapan Eva Bande

Bermula dari penutupan jalan kantong produksi petani di Desa Piondo, jalan yang di lalui oleh petani ke kebun kakao dan persawahan. Ratusan petani yang menggunakan jalan tersebut marah besar, mereka menuntut perusahaan yang menggali lubang sedalam 7 meter dan lebar 4 meter itu agar segera memperbaiki jalan yang mereka lalui.

Ratusan petani mendatangi kantor PT. BHP, perusahaan patungan antara Inhutani I dan PT. KLS. Belakangan PT. KLS telah membeli secara keseluruhan saham Inhutani I, petani menuntut jalan itu di perbaiki agar bisa di lalui menuju lahan pertanian. PT. KLS berencana menggusur kebun kakao petani desa Piondo. Itulah yang memancing kemarahan warga.

Tanggal 26 Mei 2011, ratusan petani yang marah mendatangi kantor PT. KLS, Eva Bande yang datang dikerumunan massa tersebut, meminta agar petani tenang dan jangan terbawa emosi, tetapi karena kemarahan warga yang sudah memuncak kepada perusahaan itu, Eva Bande tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya petani melakukan tindakan merusak karena pihak perusahaan tidak mau memperbaiki jalan yang mereka lubangi. Karena kejadian tersebut, Eva Bande di tuntut melanggar pasal 160 KUHP, melakukan kejahatan di depan penguasa umum.

Pasal 160 KUHP ini telah resmi di putuskan oleh Mahkamah Konstitusi, sepanjang di maknai sebagai delik materil maka dianggap masih konstitusional. Pertanyaan kemudian adalah? Apakah Murad Husain penguasa sehingga pasal ini diberlakukan untuk menjerat Eva Bande. Jawabannya TIDAK. Murad Husain bukan penguasa dia adalah pengusaha perkebunan yang merusak Suaka Margasatwa Bangkiriang dan telah resmi menjadi tersangka sebagai pelaku usaha perkebunan ilegal oleh Polres Banggai pada tahun 2010. (sumber : Kontra S)

1535388_662584023778382_3723762521084565412_n

Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan Di Kelompok Ibu-ibu Desa Saponda

Posted on Updated on

DSC_0208ALPEN bersama Ibu Rahmatia sekalu Ketua JARPUK (Jaringan Perempuan Usaha Kecil) kota Kendari melaksanakan pelatihan pembuatan bakso ikan di desa Saponda. Kegiatan yang diikuti 15 peserta ini dilaksanakan di PAUD Saponda Laut, Kabupaten Soropia, Selasa (9/06/2014).

Peserta yang hadir dalam pelatihan ini merupakan ibu-ibu yang sebagian besar memiliki usaha kecil. Sebelum pelatihan, Ibu Rahmatia memberikan materi sosialisasi terkait dengan pembentukan JARPUK untuk wilayah Saponda. Kelompok ini diharapkan dapat mengakomodir ibu-ibu yang ingin memiliki dan mengembangkan usaha secara berkelompok.

Menurut Field Coordinator, Marleni, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam bidang ekonomi. Tujuan lainnya agar masyarakat mempu mengolah ikan yang merupakan hasil utama di pulau mereka, agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Ibu Rahmatia menjelaskan bahwa dengan berkelompok, ibu-ibu sesame anggota dapat saling berbagi skill, pengalaman, dan mampu menyelesaikan masalah secara bersama. Hal ini berupaya agar kelompok tetap terbentuk meski ada kendala. Beda dengan apabila usaha dilakukan secara individu, dimana pemiliki akan enggan meneruskan usahanya apabila muncul sebuah kendala.

DSC_0209

Peserta sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini, bahkan Ibu Teti (34) menyatakan bahwa tertarik untuk mencoba dan mempraktekan cara membuat bakso ikan setelah pelatihan ini. –Melya-

 

KAMPANYE PERDANA GUGUS TUGAS BUNDA MENYAPA

Posted on

Kendari – BKKBN melalui program Gugus Tugas Bunda Menyapa, mengundang sejumlah stockholder yang telah terlibat dalam program untuk menghadiri launching perdana program ini. Kegiatan kampanye ini dilakukan di depan taman Walikota, tepatnya disejumlah titik lampu merah (25/04/2014).

DSC_0123

Turut hadir dalam kegiatan ini oleh bapak wakil Walikota, ketua BNN, POLRI, dinas-dinas setempat, serta LSM-LSM termasuk Aliansi Perempuan di dalamnya

Kegiatan ini merupakan bentuk kampanye kepada masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada anak-anak yang meminta uang di jalan. Pasalnya, makin banyak anak-anak di jalanan yang meminta-minta uang. Disatu sisi ini tidak mendukung tumbuh kembang anak, dan disisi lain sangat tidak aman untuk anak-anak berada di jalanan.

DSC_0124DSC_0128

 

 

 

 

 

 

 

Kampanye dilakukan dengan membagikan brosur berisi himbauan kepada masyarakat untuk tidak memberikan uang kepada anak-anak di jalanan. Dikatakan pula, ada banyak cara untuk memberikan uang tanpa perlu memberikan secara langsung di jalan, karena hal inilah yang menyebabkan anak-anak enggan untuk meninggalkan kondisi jalanan.

Kegiatan ini juga merupakan bentuk edukasi bagi masyarakat, agar mendukung terciptanya kota Kendari yang layak anak. Dapat dikatakan, tidaklah layak apabila anak-anak berada di jalanan, sehingga upaya awal inilah yang dapat dilakukan, agar pihak masyarakat mau mendukung program pemerintah ini.

Bapak wakil Walikota menyatakan bahwa anak-anak di wilayah kota Kendari ini merupakan tanggung jawab kita bersama. Sehingga perlulah kita meninggalkan sesuatu yang baik bagi mereka, salah satunya adalah dengan adanya program ini. Program ini merupakan langkah awal untuk meminimalisir anak-anak berada di jalanan. –Melya-

 

Workshop Gugus Tugas Kota Layak Anak

Posted on Updated on

DSC_0112Kendari – BKKBN menyelenggarakan workshop gugus tugas KLA (Kota Layak Anak). Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 15 April 2014 bertempat di hotel Clarion. Dalam workshop ini hadir bapak Hamid Pattilima selaku Kepala Bidang Data dan Analisis Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak. Beliau memberikan gambaran pemahaman terkait 31 indikator dalam KLA. Tahapan KLA adalah sebagai berikut : KLA : 31 indikator – Utama : 28 indikator – Nindya : 25 indikator – Madya : 21 indikator – Pratama : 17 indikator.

Saat ini kota Kendari masih berada pada posisi madya dengan 21 indikator yang telah terpenuhi. Bersamaan dengan kota Kendari, ada kota Malang dan kota Padang. Terkait salah satu indicator yang mana menyatakan adanya keterlibatan LSM, maka disinilah peran Aliansi Perempuan dalam mengambil bagian untuk menciptakan kota layak anak di kota Kendari.

Dibahas terkait dengan memulai menciptakan KLA ini adalah pentingnya melibatkan Forum Anak yang dimiliki kota Kendari dalam setiap kegiatan dan dalam pengambilan keputusan. Seperti halnya dalam worshop ini, hadir pula sejumlah anggota Forum Anak kota Kendari. Pertemuan ini juga memiliki satu materi terkait dengan Hak Anak. Bagaimana memahami hak-hak yang dimiliki oleh anak, serta mengimplementasikannya. -Melya-

 

PELATIHAN ADVOKASI KEBIJAKAN DALAM MUSREMBANG Di DESA SAPONDA oleh ALIANSI PEREMPUAN SULAWESI TENGGARA

Posted on Updated on

???????????????????????????????

Kendari – Pada UU 25/2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang
menyebutkan bahwa masyarakat memiliki peluang untuk berpartisipasi aktif dalam proses
penyusunan rencana pembangunan daerah. Salah satu fungsi APBD adalah
mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, kesejahteraan ternyata dirasa
belum merata bagi seluruh masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah minimnya alokasi
anggaran, terlebih untuk aspek pelayanan publik dibidang kesehatan dan pendidikan.
Pemerintah Indonesia saat ini telah mengesahkan UU No 06 tahun 2014 tentang
Kemandirian desa (UU Desa). Undang-undang ini menyatakan bahwa Negara melindungi
dan memberdayakan desa untuk menuju desa yang kuat, maju, mandiri, dan demokratis.
Undang-undang ini mendorong untuk terciptanya desa sebagai basis kemandirian social
dan politik bagi masyarakat.t dalam pemerintahan dan bernegara.

Baca entri selengkapnya »

DISKUSI KELOMPOK KERJA PENCEGAHAN PENULARAN HIV AIDS DAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA

Posted on Updated on

Kendari – Pada tanggal 5 Februari 2014, Aliansi Perempuan bekerjasama dengan Dinas P&P menyelenggarakan diskusi terkait dengan kelompok kerja untuk penanggulangan permasalahan HIV AIDS dan narkoba. Pertemuan ini adalah tindak lanjut dari rangkaian pertemuan yang telah diadakan sebelumnya. Pertemuan ini dihadiri oleh Focil Indonesia, WALHI, Dinas Kesehatan, dan Kelompok JARPUK.

DSC_0066Dalam pertemuan ini dibahas mengenai langkah konkrit yang akan dilakukan sehubungan dengan implementasi penanggulangan HIV AIDS dan narkoba. Ibu Husnawati selaku fasilitator dalam diskusi ini mengarahkan peserta untuk membuat agenda nyata yang akan dilakukan dalam beberapa bulan kedepan seusai pertemuan ini. Pada pertemuan sebelumnya telah disepakati pemetaan untuk target rentan terhaap kedua permasalahan ini. Dan dalam pertemuan ini disepakati adanya 4 agenda nyata yang akan diimplementasikan terhadap target rentan yang telah disepakati, yaitu :

 

  1. Audiensi terhadap Walikota Kendari mengenai adanya program ini
  2. Sosialisasi-sosialisasi diberbagai target rentan di kota Kendari
  3. Pelatihan untuk pengembangan kapasitas TOGA/TOMAS terkait informasi HIV AIDS dan narkoba
  4. Kampanye

 

DSC_0068

Agenda ini akan mulai dilakukan pada bulan April mendatang. Tingkat HIV AIDS dan penggunaan narkoba terbilang cukup tinggi di Kendari. Dikutip dari Antara News, bahwa sekitar 53 persen dari 5.000 kelompok usia remaja di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara, berisiko terjangkit virus HIV/AIDS. Dengan tingkat potensi yang cukup tinggi inilah, perlu dibuat sebuah program yang dapat meminimalisir semakin merebaknya penyebaran virus ini.

Kondisi ini sangatlah memungkinkan, apabila dilihat dari maraknya peredaran hiburan malam di kota Kendari. Kita harapkan program ini, dapat membantu membuka mata masyarakat akan rentannya kondisi mereka saat ini. – Melya-

Workshop Perencanaan Bisnis dan Pengembangan Usaha Komunitas JARPUK ( Jaringan Perempuan Usaha Kecil ) Kota Kendari

Posted on Updated on

Kendari – Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara bekerjasama dengan JARPUK (Jaringan Perempuan Usaha Kecil) menyelenggarakan workshop perencanaan bisnis dan pengembangan usaha bagi JARPUK kota Kendari. Workshop ini diselenggarakan selama dua hari (6-7 Februari 2014) di hotel Liras, Andunohu. Dalam penyelenggaraan kegiatan ini Aliansi Perempuan didukung oleh HIVOS (Human Institute for Cooperation) dan ASPUK.

???????????????????????????????

 

 

 

 

 

 

 

 

Baca entri selengkapnya »

GUGUS TUGAS BUNDA MENYAPA

Posted on Updated on

Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara terlibat dalam program pemerintah kota dalam menangani permasalahan anak jalanan. Pertemuan yang diselenggarakan pada tanggal 10 Januari 2014 ini, dihadiri oleh bapak wakil Walikota Kendari, Ketua BP dan KB, sejumlah SKPD serta beberapa praktisi LSM di kota Kendari. Pertemuan ini adalah pertemuan pertama dalam membahas kelanjutan implementasi dalam program GTBM (Gugus Tugas Bunda Menyapa) ini.

Permasalahan anak jalanan merupakan permasalahan yang semakin lama semakin mengkawatirkan. Pasalnya semakin banyak anak-anak yang ada dijalanan. Bapak wakil Walikota menyatakan “ada tiga kategori anak yang ada dijalanan, yaitu karena permasalahan keluarga, karena permasalahan ekonomi, dank arena mafia”. Dan beliau menambahkan bahwa penting adanya pendekatan kepada keluarga dalam mengatasi hal tersebut.

Anak merupakan asset bangsa, sehingga penting untuk memperhatikan mereka sejak dini. Program inilah salah satunya. Dalam pertemuan ini sempat terjadi beda pendapat mengenai nama program. Ada beberapa pihak yang menyatakan bahwa istilah bunda lebih cenderung kepada program ini diperuntukkan untuk kaum wanita saja, sementara ini adalah program bersama sebagai warga masyarakat Kendari. Namun, ibu ketua BP dan KB memberikan penjelasan “kenapa diberi nama Bunda, ini karena adanya aspek secara psikologi bahwa bunda adalah sosok yang hangat dan mengayomi, sehingga ketika kita turun ke lapangan, anak-anak akan merasakan sosok keibuan yang sedang menyapa mereka, jadi secara tidak langsung mereka akan merasa diperhatikan”. Secara umum, tujuan dari program ini adalah mengembalikan anak-anak ditempat seharusnya mereka berasal, yaitu sekolah. Dalam program GTBM ini nantinya juga akan dibuat pemecahan solusi baik di bidang pendidikan maupun dibidang ekonomi. Namun sebelumnya, PR terdekat yang perlu dilakukan adalah melakukan pemetaan dan identifikasi kelompok anak-anak jalanan terlebih dahulu.

Dalam pertemuan ini juga dibahas mengenai susunan pengurus yang nantinya akan bekerja dalam program GTBM ini. Adapun kepengurusan ini tidak hanya dari pihak pemerintah saja, melainkan juga melibatkan para praktisi LSM di kota Kendari. Semoga diharapkan kedepannya program GTBM ini dapat diimplementasikan dengan baik, sehingga anak-anak semakin menyadari pentingnya belajar dan melakukan hal-hal yang positif untuk masa depan mereka. –Melya-

ALPEN SULTRA Menggelar Rapat Bulanan Dengan Fasdes Bersama Tim MONEV

Posted on Updated on

Memasuki bulan ke-4, Alpen Sultra dalam programnya Kesehatan Reproduksi (Kespro) untuk masyarakat Pulau Saponda, telah menemukan beberapa indicator keberhasilan. Sala satunya adalah sebagian masyarakat pulau saponda yang menjadi target sasaran sudah mulai tahu beberapa penyakit yang berhubungan dengan Kesehatan Reproduksi yang diakibatkan oleh hubungan seksual yang tidak sehat hal ini berdasarkan dari penuturan dari sala seorang Fasdes saat rapat bulanan.

Para fasilitator desa yang bertugas di lapangan mendampingi masyarakat dalam penyadaran masalah kesehatan reproduksi dan seksual bersama dengan tim MONEV pada Hari Rabu 21 – Kamis 22 Juli 2010 melaksanakan rapat bulanan perkembangan program tersebut. Dalam rapat bulanan fasilitator desa bersama tim MONEV membicarakan tentang perkembangan program dan strategi pencapaian output program. Dari laporan yang di sampaikan oleh para fasilitator desa, sampai saat ini target capaian yang telah di capai dari yang telah di targetkan sudah mencapai 10%.

Untuk mencapai target selanjutnya, tim MONEV menekankan beberapa hal yang harus dilakukan oleh fasilitator desa terkait untuk keberhasilan program diantaranya, fasdes harus mampu melahirkan kader lokal untuk Kespro di Pulau Saponda, adanya kesadaran dikalangan perempuan muda Bajo Saponda untuk tidak kawin muda, memperbanyak diskusi secara persuasive  tentang permasalahan Kespro kepada para Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat.

Dalam Rapat yang berlangsung selama 2 hari itu kemudian juga membahas tentang kesenian adat tradisional yang sering dilaksanakan oleh masyarakat Bajo saponda yang disebut dengan Iko-Iko. Iko-iko ini sendiri adalah merupakan sala satu kesenian tradisional dalam yang dilaksanakan di laut dalam bentuk syair dan dalam syair itu mengandung makna pesan-pesan moril. Nah, iko-iko ini kemudian akan menjadi bagian dari dokumentasi dalam bentuk film documenter yang termasuk bagian dari program kesehatan reproduksi (Kespro).

Tim Monitoring Evaluasi Program Kespro di Lapangan

Posted on Updated on

Program Kesehatan Reproduksi (Kespro) yang diselenggarakan di Pulau saponda selama 10 bulan sejauh ini  telah memasuki bulan ke-3 masa berjalan program. Selama itu pula para fasilitator desa dengan gencar mensosialisasikan program kesehatan reproduksi yang secara substansi adalah menyangkut hak dasar yang harus dimiliki perempuan tentang hak reproduksi dan hak seksual.

Pada hari kamis (08/07/2010), untuk pertama kalinya tim monitoring langsung turun lapangan untuk mengevaluasi sejauh mana kinerja para fasilitator desa terkait dengan program kesehatan reproduksi (Kespro) selama memasuki bulan ke-3 masa program berjalan. dalam evaluasi para fasilitator desa dan tim monitoring membahas beberapa item yang dilakukan  oleh para fasdes, diantaranya sejauh mana pencapaian program kesehatan reproduksi (Kespro) dan strategi yang dilakukan para fasdes dalam penyampain isi program  kepada masyarakat terkait dengan kesehatan reproduksi.

Untuk pencapaian program sejauh ini telah mencapai 30% untuk tahap awal pencapaian program, Adapun yang menjadi strategi para fasdes dalam melakukan pendekatan dengan masyarakat sangat bervariasi antara fasdes perempuan dan fasdes laki-laki, ada yang memulai pendekatan dengan menilik dari sisi ekonomi masyrakat dan ada juga yang langsung masuk pada permasalahan yang menyangkut tentang kesehatan reproduksi mereka.

Yang menjadi tujuan dari evaluasi para fasilitator desa ini bukan hanya sekedar untuk melihat keberadaan para fasdes di lapangan tetapi yang sangat urgen adalah sejauh mana para fasilitator desa dalam memperkenalkan dan mengkampanyekan betapa pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini kepada masyarakat pulau Saponda.