saponda

Pelatihan Pembuatan Bakso Ikan Di Kelompok Ibu-ibu Desa Saponda

Posted on Updated on

DSC_0208ALPEN bersama Ibu Rahmatia sekalu Ketua JARPUK (Jaringan Perempuan Usaha Kecil) kota Kendari melaksanakan pelatihan pembuatan bakso ikan di desa Saponda. Kegiatan yang diikuti 15 peserta ini dilaksanakan di PAUD Saponda Laut, Kabupaten Soropia, Selasa (9/06/2014).

Peserta yang hadir dalam pelatihan ini merupakan ibu-ibu yang sebagian besar memiliki usaha kecil. Sebelum pelatihan, Ibu Rahmatia memberikan materi sosialisasi terkait dengan pembentukan JARPUK untuk wilayah Saponda. Kelompok ini diharapkan dapat mengakomodir ibu-ibu yang ingin memiliki dan mengembangkan usaha secara berkelompok.

Menurut Field Coordinator, Marleni, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas perempuan dalam bidang ekonomi. Tujuan lainnya agar masyarakat mempu mengolah ikan yang merupakan hasil utama di pulau mereka, agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

Ibu Rahmatia menjelaskan bahwa dengan berkelompok, ibu-ibu sesame anggota dapat saling berbagi skill, pengalaman, dan mampu menyelesaikan masalah secara bersama. Hal ini berupaya agar kelompok tetap terbentuk meski ada kendala. Beda dengan apabila usaha dilakukan secara individu, dimana pemiliki akan enggan meneruskan usahanya apabila muncul sebuah kendala.

DSC_0209

Peserta sangat antusias untuk mengikuti kegiatan ini, bahkan Ibu Teti (34) menyatakan bahwa tertarik untuk mencoba dan mempraktekan cara membuat bakso ikan setelah pelatihan ini. –Melya-

 

PELATIHAN ADVOKASI KEBIJAKAN DALAM MUSREMBANG Di DESA SAPONDA oleh ALIANSI PEREMPUAN SULAWESI TENGGARA

Posted on Updated on

???????????????????????????????

Kendari – Pada UU 25/2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang
menyebutkan bahwa masyarakat memiliki peluang untuk berpartisipasi aktif dalam proses
penyusunan rencana pembangunan daerah. Salah satu fungsi APBD adalah
mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, kesejahteraan ternyata dirasa
belum merata bagi seluruh masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah minimnya alokasi
anggaran, terlebih untuk aspek pelayanan publik dibidang kesehatan dan pendidikan.
Pemerintah Indonesia saat ini telah mengesahkan UU No 06 tahun 2014 tentang
Kemandirian desa (UU Desa). Undang-undang ini menyatakan bahwa Negara melindungi
dan memberdayakan desa untuk menuju desa yang kuat, maju, mandiri, dan demokratis.
Undang-undang ini mendorong untuk terciptanya desa sebagai basis kemandirian social
dan politik bagi masyarakat.t dalam pemerintahan dan bernegara.

Baca entri selengkapnya »

DISKUSI SINGKAT PROGRAM KESPRO DENGAN KEPALA PUSKESMAS SOROPIA

Posted on Updated on

IMG_1581

Kendari – Senin, 1 April 2014, Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara mengadakan pertemuan dengan Kepala Puskesmas Soropia guna membahas program KESPRO yang berlangsung di kecamatannya. Kepala Puskesmas Soropia sangat mendukung program yang dilakukan oleh Aliansi Perempuan, karena ini juga sejalan dengan program yang dilakukan oleh Puskesmas. Ibu Nur Ida A. M Kep, selaku kepala Puskesmas menyatakan kesediaanya untuk mengikutsertakan staf perawatnya untuk terlibat dalam program KESPRO yang akan berlangsung pada tanggal 11-12 April 2014 mendatang di desa Saponda.

Sehubungan dengan rencana pendirian klinik KESPRO oleh Aliansi Perempuan, dibutuhkan tenaga bidan yang memiliki kapasitas untuk dapat mengedukasi warga terkait dengan permasalahan kesehatan reproduksi. Memang untuk tugas ini sementara dilakukan oleh kader KESPRO yang dilatih oleh Aliansi Perempuan. Namun, terlebih daripada itu dengan adanya bidan di klinik KESPRO ini diharapkan dapat memberikan solusi medis terkait dengan permasalahan kesehatan reproduksi yang dialami oleh warga Saponda.

IMG_1576

Untuk saat ini, ada 2 bidan desa yang bertugas di desa Saponda, hanya saja 1 bidan desa saja yang tinggal di desa Saponda karena memang dia berasal dari desa tersebut. Sementara untuk 1 bidan desa lagi, dia tinggal di kecamatan Soropia. Hanya permasalahan saat ini adalah, fungsi dari bidan desa yang belum dirasa maksimal oleh warga. “Warga tidak pernah datang kepada saya, jadi saya merasa tidak terlalu penting”, keluh bidan Evi yang tinggal di desa Saponda.

IMG_1582

Dengan adanya klinik ini, diharapkan warga Saponda mengetahui kemana mereka harus mengadukan permasalahannya, dan juga mendapatkan solusi untuk hal itu. Disisi lain, tenaga bidan yang juga terlatih, terlebih secara medis, dapat memberikan solusi berarti bagi permasalahan mereka. –Melya-

Pernikahan Dini, Masalah Yang Dirasakan Warga Namun Sulit Dipecahkan

Posted on Updated on

Pernikahan ???????????????????????????????anak dibawah umur, atau lebih dikenal dengan istilah pernikahan dini merupakan sebuah polimeik yang dihadapi masyarakat desa Saponda. Pasalnya masyarakat sendiripun merasa tidak ada yang dapat mengatur ataupun mencegah terjadinya pernikahan dini dikalangan masyarakat mudanya. Salah serorang kader dampingan Aliansi Perempuan menyatakan bahwa dikalangan para muda-mudi ini juga rentan terjadi pergaulan bebas. Hal inilah yang kedepannnya memicu terjadinya pernikahan dini.

Pada kesempatan ini Aliansi Perempuan mengunjungi desa Saponda untuk menyelenggarakan diskusi dengan masyarakat yang diwakili beberapa aparat desa, serta kader-kader dampingan Aliansi Perempuan. Dalam diskusi ini akan dibahas beberapa hal diantaranya terkait dengan Kesehatan Reproduksi pada umumnya dan membahas topik khusus terkait pernikahan dini. Pertemuan ini diselenggarakan pada tanggal 17 Februari 2014, pukul 7 waktu setempat. Mengingat masyarakat memiliki waktu luang di malam hari, sementara sehari-hari mereka harus mencari ikan di laut.

Selama proses diskusi, masyarakat Saponda sangat aktif dan proaktif dalam menanggapi pernyataan yang kami lontarkan. Adapun agenda yang kami lakukan selama proses diskusi ini adalah :

  1. Diskusi MUSREMBANG, membantu masyarakat agar program Kesehatan Reproduksi masuk dalam usulan mereka
  2. Diskusi permasalahan pernikahan dini yang terjadi di desa mereka
  3. Sosialisasi hak anak
  4. Diskusi terkait dengan rencana pembuatan spanduk dan peraturan desa terkait pernikahan dini

Masyarakat Saponda menyambut baik usulan terkait program terkait KESPRO, mengingat masyarakat sendiri merasakan adanya permasalahan tersebut. Adapun program yang mereka usulkan adalah agar adanya peningkatan kapasitas untuk kader-kader kesehatan, serta juga penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung program KESPRO. Disisi lain, perlu juga adanya sosialisasi ke sekolah-sekolah, agar anak-anak semakin dibekali pengetahuan mengenai hal kesehatan reproduksi.

???????????????????????????????

Pernikahan dini merupakan topic khusus yang dibahas dalam pertemuan ini. Masyarakat sendiri menyadari bahwa semakin banyak kasus pernikahan yang melibatkan anak dibawah umur. Dalam diskusi dapat ditangkap bahwa penyebabnya adalah minimnya aktivitas bagi anak-anak remaja, sehingga mereka mencari hiburan lain yang mengarah kepada pergaulan bebas. Disisi lain, anak-anak memaksa untuk dinikahkan karena mereka sudah terlanjur berbadan dua, sehingga orang tua sendiripun tidak dapat menolak hal tersebut. Factor lainnya adalah tidak adanya peraturan di desa yang melarang hal tersebut, disinilah Aliansi Perempuan mengajak masyarakat untuk membahas terkait peraturan desa untuk pernikahan dini. Namun, seiring diskusi, masyarakat terkendala dengan support dari kepala desa. Oleh sebab itu pertemuan ini masih dalah tahap awal upaya mentrigger masyarakat untuk semakin aware dengan pernikahan dini.

Pertemuan ini juga mensosiliasaikan materi hak anak. Salah satu hak anak dari 4 tahap adalah hak mendapat perlindungan. Point inilah yang ditekankan dalam pertemuan ini, mengingat dengan melakukan pembiaran pernikahan dini maka sebagai orang dewasa kita tidak melindungi anak-anak untuk tetap menjalani hidupnya dengan aman. Bisa saja dalam perjalanannya, anak yang belum siap secara fisik dan mental mengalami tekanan-tekanan dan juga rentan secara fisik karena belum siap mengandung.

Diakhir pertemuan, peserta diskusi diajak untuk memberikan ide dan pemikiran untuk pembuatan poster slogan, yang nantinya akan dipasang di beberapa titik di desa mereka. Adapun ide-ide mereka adalah “pernikahan dini merusak masa depan generasi muda”, pernikahan dini menyebabkan munculnya penyakit reproduksi”, dll. Ide-ide inilah yang nantinya akan kita pilah dan disesuaikan dengan bahasa local mereka agar lebih mudah diterima oleh masyarakat Saponda – Melya-