sulawesi tenggara

Workshop Gugus Tugas Kota Layak Anak

Posted on Updated on

DSC_0112Kendari – BKKBN menyelenggarakan workshop gugus tugas KLA (Kota Layak Anak). Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 15 April 2014 bertempat di hotel Clarion. Dalam workshop ini hadir bapak Hamid Pattilima selaku Kepala Bidang Data dan Analisis Kebijakan Pengembangan Kota Layak Anak. Beliau memberikan gambaran pemahaman terkait 31 indikator dalam KLA. Tahapan KLA adalah sebagai berikut : KLA : 31 indikator – Utama : 28 indikator – Nindya : 25 indikator – Madya : 21 indikator – Pratama : 17 indikator.

Saat ini kota Kendari masih berada pada posisi madya dengan 21 indikator yang telah terpenuhi. Bersamaan dengan kota Kendari, ada kota Malang dan kota Padang. Terkait salah satu indicator yang mana menyatakan adanya keterlibatan LSM, maka disinilah peran Aliansi Perempuan dalam mengambil bagian untuk menciptakan kota layak anak di kota Kendari.

Dibahas terkait dengan memulai menciptakan KLA ini adalah pentingnya melibatkan Forum Anak yang dimiliki kota Kendari dalam setiap kegiatan dan dalam pengambilan keputusan. Seperti halnya dalam worshop ini, hadir pula sejumlah anggota Forum Anak kota Kendari. Pertemuan ini juga memiliki satu materi terkait dengan Hak Anak. Bagaimana memahami hak-hak yang dimiliki oleh anak, serta mengimplementasikannya. -Melya-

 

PELATIHAN ADVOKASI KEBIJAKAN DALAM MUSREMBANG Di DESA SAPONDA oleh ALIANSI PEREMPUAN SULAWESI TENGGARA

Posted on Updated on

???????????????????????????????

Kendari – Pada UU 25/2004 tentang sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, yang
menyebutkan bahwa masyarakat memiliki peluang untuk berpartisipasi aktif dalam proses
penyusunan rencana pembangunan daerah. Salah satu fungsi APBD adalah
mendistribusikan kesejahteraan bagi masyarakat. Namun, kesejahteraan ternyata dirasa
belum merata bagi seluruh masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah minimnya alokasi
anggaran, terlebih untuk aspek pelayanan publik dibidang kesehatan dan pendidikan.
Pemerintah Indonesia saat ini telah mengesahkan UU No 06 tahun 2014 tentang
Kemandirian desa (UU Desa). Undang-undang ini menyatakan bahwa Negara melindungi
dan memberdayakan desa untuk menuju desa yang kuat, maju, mandiri, dan demokratis.
Undang-undang ini mendorong untuk terciptanya desa sebagai basis kemandirian social
dan politik bagi masyarakat.t dalam pemerintahan dan bernegara.

Baca entri selengkapnya »

DISKUSI SINGKAT PROGRAM KESPRO DENGAN KEPALA PUSKESMAS SOROPIA

Posted on Updated on

IMG_1581

Kendari – Senin, 1 April 2014, Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara mengadakan pertemuan dengan Kepala Puskesmas Soropia guna membahas program KESPRO yang berlangsung di kecamatannya. Kepala Puskesmas Soropia sangat mendukung program yang dilakukan oleh Aliansi Perempuan, karena ini juga sejalan dengan program yang dilakukan oleh Puskesmas. Ibu Nur Ida A. M Kep, selaku kepala Puskesmas menyatakan kesediaanya untuk mengikutsertakan staf perawatnya untuk terlibat dalam program KESPRO yang akan berlangsung pada tanggal 11-12 April 2014 mendatang di desa Saponda.

Sehubungan dengan rencana pendirian klinik KESPRO oleh Aliansi Perempuan, dibutuhkan tenaga bidan yang memiliki kapasitas untuk dapat mengedukasi warga terkait dengan permasalahan kesehatan reproduksi. Memang untuk tugas ini sementara dilakukan oleh kader KESPRO yang dilatih oleh Aliansi Perempuan. Namun, terlebih daripada itu dengan adanya bidan di klinik KESPRO ini diharapkan dapat memberikan solusi medis terkait dengan permasalahan kesehatan reproduksi yang dialami oleh warga Saponda.

IMG_1576

Untuk saat ini, ada 2 bidan desa yang bertugas di desa Saponda, hanya saja 1 bidan desa saja yang tinggal di desa Saponda karena memang dia berasal dari desa tersebut. Sementara untuk 1 bidan desa lagi, dia tinggal di kecamatan Soropia. Hanya permasalahan saat ini adalah, fungsi dari bidan desa yang belum dirasa maksimal oleh warga. “Warga tidak pernah datang kepada saya, jadi saya merasa tidak terlalu penting”, keluh bidan Evi yang tinggal di desa Saponda.

IMG_1582

Dengan adanya klinik ini, diharapkan warga Saponda mengetahui kemana mereka harus mengadukan permasalahannya, dan juga mendapatkan solusi untuk hal itu. Disisi lain, tenaga bidan yang juga terlatih, terlebih secara medis, dapat memberikan solusi berarti bagi permasalahan mereka. –Melya-

Workshop Perencanaan Bisnis dan Pengembangan Usaha Komunitas JARPUK ( Jaringan Perempuan Usaha Kecil ) Kota Kendari

Posted on Updated on

Kendari – Aliansi Perempuan Sulawesi Tenggara bekerjasama dengan JARPUK (Jaringan Perempuan Usaha Kecil) menyelenggarakan workshop perencanaan bisnis dan pengembangan usaha bagi JARPUK kota Kendari. Workshop ini diselenggarakan selama dua hari (6-7 Februari 2014) di hotel Liras, Andunohu. Dalam penyelenggaraan kegiatan ini Aliansi Perempuan didukung oleh HIVOS (Human Institute for Cooperation) dan ASPUK.

???????????????????????????????

 

 

 

 

 

 

 

 

Baca entri selengkapnya »

ALPEN SULTRA Menggelar Rapat Bulanan Dengan Fasdes Bersama Tim MONEV

Posted on Updated on

Memasuki bulan ke-4, Alpen Sultra dalam programnya Kesehatan Reproduksi (Kespro) untuk masyarakat Pulau Saponda, telah menemukan beberapa indicator keberhasilan. Sala satunya adalah sebagian masyarakat pulau saponda yang menjadi target sasaran sudah mulai tahu beberapa penyakit yang berhubungan dengan Kesehatan Reproduksi yang diakibatkan oleh hubungan seksual yang tidak sehat hal ini berdasarkan dari penuturan dari sala seorang Fasdes saat rapat bulanan.

Para fasilitator desa yang bertugas di lapangan mendampingi masyarakat dalam penyadaran masalah kesehatan reproduksi dan seksual bersama dengan tim MONEV pada Hari Rabu 21 – Kamis 22 Juli 2010 melaksanakan rapat bulanan perkembangan program tersebut. Dalam rapat bulanan fasilitator desa bersama tim MONEV membicarakan tentang perkembangan program dan strategi pencapaian output program. Dari laporan yang di sampaikan oleh para fasilitator desa, sampai saat ini target capaian yang telah di capai dari yang telah di targetkan sudah mencapai 10%.

Untuk mencapai target selanjutnya, tim MONEV menekankan beberapa hal yang harus dilakukan oleh fasilitator desa terkait untuk keberhasilan program diantaranya, fasdes harus mampu melahirkan kader lokal untuk Kespro di Pulau Saponda, adanya kesadaran dikalangan perempuan muda Bajo Saponda untuk tidak kawin muda, memperbanyak diskusi secara persuasive  tentang permasalahan Kespro kepada para Tokoh Agama, Tokoh Masyarakat dan Tokoh Adat.

Dalam Rapat yang berlangsung selama 2 hari itu kemudian juga membahas tentang kesenian adat tradisional yang sering dilaksanakan oleh masyarakat Bajo saponda yang disebut dengan Iko-Iko. Iko-iko ini sendiri adalah merupakan sala satu kesenian tradisional dalam yang dilaksanakan di laut dalam bentuk syair dan dalam syair itu mengandung makna pesan-pesan moril. Nah, iko-iko ini kemudian akan menjadi bagian dari dokumentasi dalam bentuk film documenter yang termasuk bagian dari program kesehatan reproduksi (Kespro).

Tim Monitoring Evaluasi Program Kespro di Lapangan

Posted on Updated on

Program Kesehatan Reproduksi (Kespro) yang diselenggarakan di Pulau saponda selama 10 bulan sejauh ini  telah memasuki bulan ke-3 masa berjalan program. Selama itu pula para fasilitator desa dengan gencar mensosialisasikan program kesehatan reproduksi yang secara substansi adalah menyangkut hak dasar yang harus dimiliki perempuan tentang hak reproduksi dan hak seksual.

Pada hari kamis (08/07/2010), untuk pertama kalinya tim monitoring langsung turun lapangan untuk mengevaluasi sejauh mana kinerja para fasilitator desa terkait dengan program kesehatan reproduksi (Kespro) selama memasuki bulan ke-3 masa program berjalan. dalam evaluasi para fasilitator desa dan tim monitoring membahas beberapa item yang dilakukan  oleh para fasdes, diantaranya sejauh mana pencapaian program kesehatan reproduksi (Kespro) dan strategi yang dilakukan para fasdes dalam penyampain isi program  kepada masyarakat terkait dengan kesehatan reproduksi.

Untuk pencapaian program sejauh ini telah mencapai 30% untuk tahap awal pencapaian program, Adapun yang menjadi strategi para fasdes dalam melakukan pendekatan dengan masyarakat sangat bervariasi antara fasdes perempuan dan fasdes laki-laki, ada yang memulai pendekatan dengan menilik dari sisi ekonomi masyrakat dan ada juga yang langsung masuk pada permasalahan yang menyangkut tentang kesehatan reproduksi mereka.

Yang menjadi tujuan dari evaluasi para fasilitator desa ini bukan hanya sekedar untuk melihat keberadaan para fasdes di lapangan tetapi yang sangat urgen adalah sejauh mana para fasilitator desa dalam memperkenalkan dan mengkampanyekan betapa pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi sejak dini kepada masyarakat pulau Saponda.

Fasdes Kespro Turun Lapangan

Posted on Updated on

setelah melewati proses pelatihan selama 4 hari di Hotel Dewa Bintang 2 Kendari, para Fasilitator Desa program Kesehatan Reproduksi (KESPRO) kini telah turun lapangan yaitu di Pulau Saponda untuk memfasilitasi masyarakat disana dalam mendapatkan pengetahuan tentang Kesehatan Reproduksi dan mau berbuat untuk menjaga kesehatan mereka. para fasilitator desa ini akan bertugas selama sepuluh bulan dengan tujuan akhir, terbinanya kader-kader kespro dalam masyarakat Pulau Saponda.

Kegiatan Field Trip ALPEN SULTRA bersama dengan Siswa SBI SLTP 1 Kendari ke Tahura Nipa-Nipa ~ ALPEN SULTRA and SLTP 1 students go on a field trip to Tahura Nipa- Nipa forest

Posted on Updated on

Tahura Nipa-Nipa1

Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Minggu, 24 Mei 2009 dengan melibatkan kurang lebih 55 orang siswa SLTP 1 kendari kelas international school (SBI) yang terdiri atas 35 org perempuan dan 20 orang laki-laki. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pendidikan lingkungan hidup kepada remaja putra-putri kota kendari tentang pentingnya menjaga, memelihara dan melestarikan Tahura Nipa-nipa sebagai paru-paru kota kendari. Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, para siswa telah diberikan beberapa pemahaman di ruang kelas mengenai dampak perubahan iklim dan fungsi TAHURA di kota Kendari, Model pelaksanaan kegiatan ini adalah pembelajaran di ruang kelas dan praktek lapang. Kegiatan field trip dilaksanakan pada area kawasan Tahura nipa-nipa yang menjadi hutan penyangga sumber mata air bagi kota kendari. Secara sederhana, masing-masing siswa dibekali dengan kantong plastik pada saat melakukan perjalanan ke Tahura nipa-nipa, dengan tujuan untuk menampung sampah yang terdapat di sekitar kawasan hutan Tahura. Selain itu, para siswa juga diberikan penyuluhan/pemahaman dan sosialisasi mengenai fungsi kawasan hutan Tahura nipa-nipa bagi masyarakat kota kendari. Diantaranya berfungsi sebagai hutan penyangga sumber mata air, sebagai kawasan penelitian bagi mahasiswa dan masyarakat dan sebagai kawasan konservasi.

ALPEN SULTRA yang juga fokus pada isu pemberdayaan perempuan dan lingkungan menggagas program ini dengan melibatkan remaja sebagai agen pembaharu pelestarian lingkungan, sebab dengan terlibatnya remaja putra putri di kota kendari ini akan memberikan dampak yang positif bagi keberlajutan pelestarian hutan dan lingkungan sekitarnya. Ula Majewski, yang bekerja sebagai pekerja sukarela di ALPEN SULTRA sekaligus sebagai fasilitator kegiatan ini mengatakan: “sangat penting bagi setiap orang untuk mengetahui dampak terbesar bagi perubahan iklim dan kerusakan hutan, oleh karena itu penting untuk menjaga dan melestarikannya”.

break graphic

On Sunday, 24th May 2009, ALPEN SULTRA organised a field trip to the Tahura Nipa-Nipa forest, involving 55 students (35 girls and 20 boys) from junior high school KLTP 1 in Kendari. The field trip provided environmental education for the teenagers about how to watch over, protect and conserve the Tahura Nipa-Nipa forest as the lungs of Kendari city. Prior to this activity, the students had already participated in a classroom workshop and had gained a good understanding of the effects of climate change and the importance of Tahura Nipa-Nipa for the people of Kendari. This learning process was continued with the field trip out to the forest. Tahura Nipa-Nipa is an important water resource for the city of Kendari. During the field trip, students collected rubbish from the forest and listened to local experts talk about the different functions of the forest – as a water resource, conservation area and research site for the university.

ALPEN SULTRA, a local NGO that focuses on Gender and Environment, initiated this activity and has involved the young people of Kendari, to show them how they can have an important impact on forest conservation and sustainable environmental management of the forests in the area. Ula Majewski, who works as a volunteer for ALPEN and also as a facilitator of this initiative said “It is very important for people to understand the massive impacts that climate change and deforestation are having on our world and to become active in the conservation and rehabilitation of forests.”