Perempuan dan Kesehatan

Di awal tahun 1980-an penduduk pulau Saponda Kecamatan Soropia Kabupaten Konawe Sultra, masih sangat sedikit jumlahnya. Namun, dalam kurun waktu 20 tahun terakhir ini, populasi/jumlah penduduknya meningkat dengan sangat pesat. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pasangan suami istri yang masih dibawah umur. Tak heran, di pertengahan tahun 2008 jumlah penduduk pulau kecil tersebut kini telah mencapai angka 1.613 jiwa dengan 486 KK. Keadaan ini sudah sangat tidak seimbang dengan kondisi pulau yang semakin lama semakin menyempit akibat abrasi oleh air laut. Masalah yang sangat nampak terlihat adalah tidak adanya lagi lokasi untuk mendirikan perumahan tempat tinggal bagi mereka. Maka tak jarang dalam satu rumah dengan ukuran paling besar  sekitar 8 x 11 m2, ditinggali oleh 2 sampai 3 kepala keluarga dalam rumah yang didirikan di atas laut dan pinggir pantai dengan jumlah sekitar 20 orang per rumah. Kondisi lain yang cukup memprihatinkan di desa Saponda sebagai dampak nikah muda adalah anak-anak usia sekolah banyak yang tidak bersekolah dan putus sekolah sebelum tamat SD.

Bagi masyarakat pulau Saponda, menikahkan anak perempuan di bawah umur (antara umur 10-12 Tahun) telah menjadi kebiasaan turun temurun. Pada beberapa kasus ada yang baru mendapat menstruasi setelah menikah. Atas dasar pemahaman budaya maka anak-anak perempuan suku bajo dan perempuan dewasanya memahami bahwa sejak mereka lahir, mereka adalah milik ayah dan saudara laki-lakinya, oleh karena itu ketika mereka dikawinkan pada usia yang sangat belia, mereka tidak mampu menolak. Setelah mereka dinikahkan maka hidup mereka selanjutnya berada sepenuhnya di tangan suami.

Ketidakadilan yang melahirkan kekerasan terhadap hak seksual perempuan Bajo dimulai sejak mereka masih kecil (umur 7-10 thn). Mereka harus menjalani upacara sunat massal dengan menggunakan pisau tumpul yang dijepitkan ke klitoris. Sebagian mengaku seperti digigit semut, sebagian mengaku sakit dan mengalami luka kecil. Prosesi ini dilakukan sebagai simbol bahwa mereka telah di sunat. Sebagai gantinya, jeger ayam di iris sebagai simbol klitoris sampai mengeluarkan darah. Dalam prosesi sunat massal tersebut, anak laki-laki juga disunat dengan memakai pahat (alat untuk mematung). Beberapa jam sebelumnya anak laki-laki dan anak perempuan tersebut dimandikan dengan memakai jampi-jampi (mantra-mantra) agar terhindar dari rasa sakit dan infeksi. Simbol-simbol penguasaan, pengekangan dan kekerasan terhadap hak seksual perempuan setiap tahun terus dilakukan di pulau Saponda dalam rangkaian upacara adat.

Bagi perempuan dewasa, kekerasan yang mereka alami sejak kecil adalah sebuah perjalanan adat yang mesti mereka lalui. Sampai saat ini, hak seksual dan reproduksi mereka juga tetap dikendalikan oleh suami. Dari hasil wawancara ALPEN terhadap 2 orang perempuan Bajo (1 Juli 2007) mereka tidak kuasa menolak untuk tidak melakukan hubungan seksual walaupun dalam keadaan menstruasi.. Alasannya suami mereka nelayan dan pulang tidak menentu waktunya. Lagi pula, menolak hubungan seks dapat berakibat kekerasan terhadap istri. Mereka tidak punya hak untuk menentukan jumlah anak dan kapan akan hamil. Pemakaian alat kontrasepsi biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Otoritas tubuh mereka dikendalikan oleh suami.

Persoalan perkawinan dan kesehatan reproduksi dianggap hal yang tabu untuk dibicarakan kepada orang lain termasuk dokter sekalipun. Perempuan Bajo di Pulau Saponda sangat tertutup. Yang cukup unik dan menarik adalah perempuan Bajo dilarang utnuk melakukan aborsi bagi kehamilan yang tidak mereka kehendaki walaupun dengan alasan kesehatan. Mereka beranggapan bahwa setiap anak yang mereka kandung memiliki saudara kembar di dalam laut. Jika mereka melakukan aborsi maka saudara kembarnya akan murka dan suami mereka akan mengalami hambatan ketika melaut.

Peran dan status perempuan Bajo dalam hal seksualitas dan reproduksi berbanding terbalik dengan peran dan status mereka dalam kehidupan ekonomi.  Dalam kehidupan ekonomi, perempuan Bajo memiliki akses penuh terhadap hasil tangkapan suami. Perempuan dapat menentukan kemana dan akan dibuat apa hasil tangkapan tersebut. Uang hasil penjualan ikan juga dikelola oleh istri. Istri diberikan tugas penuh untuk mengelolah keuangan keluarga agar dapat memenuhi kebutuhan hidup sekecil apapun hasil tangkapan suami. Walaupun perempuan Bajo memegang kendali keuangan namun tetap tidak memiliki kontrol terhadap tubuhnya.

Berbagai temuan atas persoalan hak seksual dan hak reproduksi perempuan di Desa Saponda tersebut, membuat Aliansi perempuan Sultra (ALPEN) terdorong untuk melakukan serangkaian pendidikan kritis tentang kesehatan reproduksi termasuk hak seksual secara berseri, agar persoalan tentang tubuh perempuan yang telah mendapat perlakuan tidak adil, syarat dengan kekerasan dan sangat tabu dibicarakan dapat secara pelan-pelan dipahami, diyakini dan dianggap layak untuk dibicarakan dengan tidak melanggar norma.

Pendidikan terhadap masyarakat Pulau Saponda ini akan berlangsung selama 10 bulan yang dimulai dari Maret sampai Dsember 2010.

Iklan

2 thoughts on “Perempuan dan Kesehatan

    cara menghilangkan keputihan said:
    Oktober 24, 2013 pukul 3:40 pm

    informasi yang bagus..menambah pengetahuan..nice share…

      ALPEN SULTRA responded:
      November 21, 2013 pukul 1:41 pm

      Terimakasih…. masih ada beberapa informasi yang nanti juga akan kami share di web kami ini…. stay in touch ya ! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s